Pages

  • MENANTI SESEORANG
    "Jangan terburu-buru dengan cinta. lebih baik menunggu seorang yang tepat bagi hidup selamanya daripada hanya sementara"

Minggu, 24 April 2016

Tugas Kewirausahaan Minggu 2



Sejarah Perusahaan Piero


Piero, itulah nama sepatu produk lokal asli Indonesia yang sudah mendunia. Ya, sepatu piero bisa dibilang sanggup bersaing dengan produk lain diluar sana. Sayangnya pasar Indonesia sendiri masih dikuasai produk asing yang diimport dari luar negri, padahal ada produk lokal asli Indonesia yang harganya jauh lebih murah dan kualitasnya sebanding dengan produk import dari luar negri. Saat ini, akan dibahas Sejarah Sepatu Piero kenapa bisa dinamakan seperti itu.

Menurut Djimanto mantan Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mengatakan, nama Piero berasal dari kata “urip”. Apa maksudnya?

Djimanto juga menceritakan Sejarah dan Asal Usul Sepatu Piero, saat dirinya masih menjadi Ketua Aprisindo saat krisis moneter (krismon) terberat yang pernah dialami bangsa ini yaitu tahun 1998. Pada saat itu, banyak perusahaan-perusahaan lokal bangkrut, kalau tidak bangkrut ya masuk ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dikarenakan menunggak uang BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) atau menjadi sitaan BPPN.

BPPN juga menyita perusahaan sepatu Star Moon. Djimanto berusaha membeli perusahaan tersebut karena ia tidak menginginkan usaha persepatuannya ambruk. Lelaki kelahiran Jogjakarta itu membeli pabrik sepatu Star Moon dengan harga sangat miring, meskipun tidak mau menyebut harga belinya.

Permasalahaan langsung menghadang Djimanto saat membeli perusahaan sepatu ini. 3000 karyawan nasibnya terkatung-katung karena order berkurang sangat drastis akibat masuknya Star Moon ke BPPN. Djimanto menekankan agar terus menghidupkan perusahaan itu saat rapat direksi. “Sing penting urip (yang penting hidup) pabrik, karena 3000 karyawan akan susah kalau nggak urip,” kata Djimanto saat mengenang masa lalu.

Karena pemilik perusahaan sering mengucap kata “urip” itulah, salah satu direkturnya mendapatkan ide agar menamakan produk sepatunya menjadi “urip”. Akan tetapi, nama tersebut dinilai kurang menjual oleh Djimanto. “Karena nama urip itu kemudian dibalik, karena tidak ada yang pas, jadinya disisipi huruf lain, jadilah Piero,” tandasnya.

Meskipun bukan mendompleng nama Alesandro del Piero, sepatu Piero langsung laris manis tanjung kimpul mengikuti melambungnya nama del Piero sebagai pemain sepak bola kelas dunia pada awal tahun 2000-an. Del Piero sangat disekali lawan karena tendangannya yang sangat mematikan itu. Namun pemasaran sepatu merk Piero mulai banyak hambatan saat menjalani perjalanan yang selanjutnya. Bukannya bersaing dengan produsen sepatu dalam negri yang lain, akan tetapi kebijakan pemerintah malah membuat perusahaan itu sampai kalang kabut.

Kebijakan pemerintah yaitu membuka pasar impor sepatu dari China. Alas kaki murah asal china menyerbu dunia pada awal tahun 2005, termasuk di Indonesia. Sepatu China itu langsung merebut pasar yang tadinya sempat dikuasai produsen sepatu asli Indonesia, karena harganya yang jauh lebih murah dan mutunya seimbang.

Tak tahu apa yang terjadi pada produk negara tersebut, dapat menghasilkan dengan mutu yang bagus dengan cost yang benar-benar rendah. Djimanto sempat juga pusing dibuatnya. ” Banyak produsen dalam negeri yang gulung tikar, lantaran tak kuat berkompetisi dengan produksi China, ” tutur Djimanto.

Puncaknya pada tahun 2007, hampir setengah market share (pangsa pasar) sepatu serta alas kaki di Indonesia sudah jadi pasarnya beberapa barang buatan China. Pasar alas kaki dalam negeri waktu itu yaitu sekitar 15 miliar dolar, sepatu asal China juga memasok jumlah yang sama ke Indonesia.

Sama juga dengan produsen alas kaki yang lain, Sepatu Piero juga sempat kelabakan. Juga pernah memikirkan untuk bikin nama lain dengan membuat nama pemain sepakbola yang saat ini tengah melambung, umpamanya Ronaldo atau mungkin CR7. ” Namun itu dikuatirkan akan diklaim sama yang punya nama, ” katanya.

Perusahaan ini memotong karyawan hingga 1500 orang akibat desakan dari China. “Yang lain terpaksa di-PHK, namun terus bisa order. Istilahnya mereka jadi sub. Apabila perlu kita order ke mereka,” ujarnya.

Dengan mulai mahalnya harga tenaga kerja China, alas kaki produksi asal negeri juga mulai meningkat harganya. Menurut dia, saat inilah peristiwa yang pas bagi produksi asal Indonesia untuk bangkit supaya tak kalah dari produsen yang lain. ” Syaratnya ya itu, tak ada pungutan retribusi atau mungkin pungutan-pungutan yang untuk kami sendiri tidak tahu nanti kembali untuk apa, lantaran kami tak memperoleh keuntungannya, ” jelasnya.

Sumber >> http://artikel.pricearea.com

Nama    : Ryan Riyadi
NPM      : 49214893
Kelas     : 2DA02

0 komentar :

Posting Komentar